Majelis Dikdasmen PNF Bongkar Tantangan Globalisasi, Sebut Hizbul Wathan Jadi Kunci Selamatkan Karakter Generasi Muda
- account_circle hwjateng
- calendar_month 28/02/2026
- visibility 175
- comment 0 komentar
- label Berita
Magelang – Era globalisasi dan digitalisasi membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat, termasuk bagi generasi muda. Arus informasi yang tanpa batas memicu tantangan baru, mulai dari krisis moral hingga degradasi karakter. Hal itu disampaikan Wakil Ketua Majelis Dikdasmen PNF PWM Jawa Tengah, Sugiyono, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Ideopolitor dan Koordinasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Tengah di Universitas Muhammadiyah Magelang.
Dalam paparannya, Sugiyono menegaskan bahwa perubahan zaman tidak bisa dihindari. Namun, ia mengingatkan bahwa dampaknya harus disikapi secara serius. “Era globalisasi dan digitalisasi membawa perubahan besar. Kita menghadapi krisis moral dan degradasi karakter generasi muda,” ujarnya, Sabtu (28/2).
Ia menjelaskan bahwa tantangan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga menyentuh aspek ideologi dan budaya global. Menurutnya, arus budaya luar yang masuk tanpa filter dapat menggeser nilai-nilai luhur bangsa. Karena itu, ia menekankan pentingnya pendidikan karakter yang berbasis agama dan nasionalisme.
Sugiyono menyebut pendidikan karakter harus menjadi prioritas bersama. Ia menilai, penguatan nilai keislaman dan semangat kebangsaan menjadi fondasi utama untuk membentengi generasi muda dari pengaruh negatif globalisasi. Ia juga mengingatkan bahwa lembaga pendidikan memiliki tanggung jawab strategis dalam membangun karakter yang tangguh.
Dalam kesempatan tersebut, Sugiyono memaparkan potensi besar yang dimiliki Hizbul Wathan. Ia menyebut organisasi kepanduan ini mempunyai ideologi Islam yang kuat sebagai fondasi gerakan. Selain itu, Hizbul Wathan memiliki jaringan nasional dan internasional yang luas.
Menurutnya, sistem kaderisasi berjenjang menjadi kekuatan lain yang tidak dimiliki banyak organisasi. Melalui pola pembinaan yang sistematis, Hizbul Wathan mampu mencetak kader yang berintegritas. Ia menambahkan bahwa integrasi dengan sekolah Muhammadiyah semakin memperkokoh posisi organisasi ini dalam membina generasi muda.
Sugiyono juga menyinggung tradisi kepemimpinan dan kedisiplinan yang telah lama tumbuh dalam tubuh Hizbul Wathan. Ia mengatakan, nilai-nilai tersebut menjadi modal penting untuk menjawab tantangan zaman. Secara tidak langsung, ia menilai bahwa Hizbul Wathan memiliki perangkat lengkap untuk membentuk karakter generasi yang siap bersaing di tingkat global.
Tak hanya berbicara pada level nasional, Sugiyono menegaskan bahwa Hizbul Wathan memiliki peran strategis di dunia global. Ia menyebut organisasi ini dapat menjadi representasi Islam moderat di kancah internasional. “HW memiliki peluang besar untuk tampil sebagai wajah Islam moderat,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya diplomasi kepanduan dunia. Menurutnya, melalui jejaring kepanduan internasional, Hizbul Wathan dapat memperluas pengaruh positif dan memperkenalkan nilai-nilai Islam berkemajuan. Selain itu, ia menyampaikan bahwa organisasi ini berpotensi menjadi kontributor dalam isu lingkungan dan kemanusiaan.
Sugiyono menilai, keterlibatan aktif dalam isu-isu global akan memperkuat citra positif Islam. Ia menyebut hal itu sebagai bagian dari branding Islam berkemajuan yang selama ini menjadi identitas gerakan Muhammadiyah.
Melalui forum Ideopolitor dan Koordinasi Kwarwil Hizbul Wathan Jawa Tengah tersebut, Sugiyono mengajak seluruh kader untuk memperkuat komitmen ideologis dan kapasitas kepemimpinan. Ia berharap Hizbul Wathan mampu menjawab tantangan globalisasi dengan langkah konkret dan terukur.
Menurutnya, generasi muda membutuhkan ruang pembinaan yang konsisten dan berorientasi nilai. Hizbul Wathan, kata dia, memiliki potensi besar untuk mengambil peran tersebut. Dengan ideologi yang kuat, jaringan luas, serta tradisi kepemimpinan yang mapan, organisasi ini diyakini mampu menjadi garda terdepan dalam membangun karakter generasi bangsa di tengah derasnya arus globalisasi dan digitalisasi.


