Dodok Sartono di Ideopolitor dan Koordinasi HW Jateng Beberkan Kiat-kiat Transformasi Organisasi dan Perkaderan
- account_circle hwjateng
- calendar_month 28/02/2026
- visibility 215
- comment 0 komentar
- label Berita
Magelang – Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah, Dodok Sartono, menegaskan pentingnya transformasi menyeluruh bagi Hizbul Wathan (HW). Hal itu ia sampaikan dalam forum Ideopolitor dan Koordinasi Kwartir Wilayah HW Jawa Tengah, Sabtu (28/2) di Universitas Muhammadiyah Magelang.
Di hadapan ratusan peserta, Dodok menyatakan bahwa strategi transformasi Hizbul Wathan tidak cukup hanya melalui program kerja rutin. Ia menekankan perlunya perubahan yang menyentuh aspek kultur organisasi, tata kelola, hingga positioning gerakan.
“Strategi transformasi HW perlu dilakukan secara sistemik, bukan hanya program, tetapi perubahan kultur, tata kelola, dan positioning gerakan,” ujarnya.
Dodok menjelaskan, HW merupakan instrumen kaderisasi strategis Muhammadiyah. Organisasi kepanduan ini memiliki potensi besar dalam membentuk karakter, kepemimpinan, dan militansi generasi muda. Karena itu, ia menilai peran HW sangat vital dalam ekosistem gerakan Muhammadiyah.
Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan serius di era digital. Persaingan dengan berbagai organisasi kepemudaan semakin ketat. Selain itu, tata kelola organisasi di sejumlah daerah dinilai masih lemah. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut langkah pembenahan yang terstruktur dan berkelanjutan.
Dodok memaparkan sejumlah persoalan yang perlu segera dicarikan solusi. Ia menyebut aktivitas HW belum merata di seluruh sekolah Muhammadiyah. Di sisi lain, kualitas sumber daya manusia pelatih belum terstandarisasi secara menyeluruh.
Permasalahan lain yang ia soroti adalah belum tersedianya sistem basis data anggota yang terintegrasi. Kegiatan yang berjalan juga masih cenderung seremonial dan belum dirancang secara sistemik. Ia menambahkan, sinergi dengan organisasi otonom maupun Amal Usaha Muhammadiyah masih minim.
Menurut Dodok, berbagai persoalan tersebut tidak boleh diabaikan. Ia menilai, jika transformasi tidak segera dilakukan, HW berisiko kehilangan relevansi di mata generasi muda.
“Jika tidak ditransformasikan, maka HW berisiko kehilangan relevansi dan daya tarik bagi generasi muda,” tegasnya.
Lebih lanjut, Dodok menawarkan sejumlah langkah strategis sebagai arah transformasi. Ia mendorong agar HW diposisikan sebagai gerakan kepanduan Islam modern yang berlandaskan nilai berkemajuan. Dengan pendekatan itu, HW diharapkan mampu menjawab kebutuhan zaman tanpa meninggalkan jati diri ideologisnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya penguatan sistem kaderisasi Muhammadiyah sejak usia dini melalui HW. Menurutnya, pembinaan karakter dan kepemimpinan harus dirancang secara berjenjang dan terukur.
Dodok juga menggarisbawahi perlunya peningkatan profesionalisme tata kelola organisasi. Transparansi, akuntabilitas, serta manajemen yang rapi harus menjadi standar baru di seluruh lini kepengurusan. Ia menyebut pembenahan sistem sebagai fondasi utama untuk memperkuat gerakan.
Tak kalah penting, ia mendorong kemandirian finansial serta penguatan branding HW. Menurutnya, citra organisasi harus dibangun secara konsisten agar lebih dikenal dan diminati generasi muda.
Forum Ideopolitor dan Koordinasi Kwartir Wilayah HW Jawa Tengah itu menjadi momentum refleksi sekaligus konsolidasi. Peserta yang hadir mengikuti paparan dengan antusias. Sejumlah peserta mencatat poin-poin strategis yang disampaikan Dodok sebagai bahan tindak lanjut di daerah masing-masing.
Melalui gagasan transformasi sistemik tersebut, Dodok berharap Hizbul Wathan Jawa Tengah mampu memperkuat peran sebagai gerakan kaderisasi yang adaptif, modern, dan tetap berakar pada nilai Islam berkemajuan. Ia menilai langkah ini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak demi menjaga eksistensi dan daya saing HW di tengah dinamika zaman.


