Penyelenggaraan luring dipusatkan di SMK Muhammadiyah Delanggu. Sementara itu, sesi daring menjadi ruang pertemuan awal bagi para peserta sebelum memasuki kegiatan tatap muka. Penyelenggara menyebut bahwa pola hybrid ini dipilih agar proses pelatihan lebih fleksibel dan menjangkau peserta dari berbagai daerah.
Pada pembukaan sesi daring, hadir Wakil Ketua Kwarwil HW Jawa Tengah, Sukasno, Pelatih Jaya Melati 2, Ismokoweni, serta perwakilan Bidang Diklat dan MSDA Kwarwil HW Jawa Tengah. Sebanyak 66 pandu tercatat mengikuti kursus tersebut. Salah satu panitia mengatakan bahwa angka itu menunjukkan tingginya antusiasme anggota dewasa dalam memperdalam kompetensi kepanduan.
Dalam sambutannya, Sukasno menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pelatih di lingkungan Hizbul Wathan. Ia menyampaikan bahwa peran pelatih tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi juga membentuk karakter dan kedisiplinan para pandu. “Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya saat membuka sesi daring.
Pernyataan itu sejalan dengan tujuan utama kursus, yaitu menyiapkan anggota dewasa yang tidak hanya memahami teori kepanduan, tetapi juga terampil mengimplementasikan metode kepelatihan di lapangan. Menurut panitia, peserta dibekali materi yang dirancang untuk memperkuat kemampuan teknis maupun manajerial dalam menjalankan tugas sebagai pelatih.
Pelatih Jaya Melati 2, Ismokoweni, dalam kesempatan terpisah menyampaikan bahwa peserta diharapkan mampu membawa pembaruan dalam proses pelatihan di masing-masing kwartir. Ia menjelaskan bahwa dinamika kepanduan menuntut para pelatih untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensi. “Kami ingin melahirkan pelatih yang dapat menggerakkan semangat para pandu melalui pendekatan yang lebih kreatif dan efektif,” katanya.
]]>Dalam penyampaian materinya, Ulinuha menjelaskan manajemen Dewan Sugli secara komprehensif. Ia juga memaparkan berbagai contoh praktik manajerial yang selama ini diterapkan di Dewan Sugli dan Dewan Kerabat. Menurutnya, pengelolaan organisasi membutuhkan penataan kerja yang jelas agar setiap anggota dapat menjalankan peran secara efektif. “Manajemen yang tertata itu membuat Dewan Sugli bisa bergerak lebih cepat dan presisi,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia menambahkan bahwa pengalaman panjangnya di Hizbul Wathan, termasuk saat memimpin DSW Jawa Tengah, membentuk banyak pelajaran berharga. Ulinuha menuturkan bahwa Dewan Sugli tidak hanya bertugas menjalankan program, tetapi juga memastikan keberlanjutan kaderisasi. Ia menekankan pentingnya komunikasi, koordinasi, dan keteladanan sebagai fondasi kerja. Menurut penjelasannya, tiga aspek tersebut menjadi kunci agar organisasi tingkat daerah tetap solid dan berdaya guna.
Sebelum sesi Ulinuha, Wakil Ketua Kwarda HW Kendal, Nur Khodiq, tampil sebagai narasumber awal. Ia membawakan materi mengenai arah kebijakan HW Kendal untuk periode 2023–2028. Dalam pemaparannya, Khodiq menekankan bahwa arah gerak organisasi lima tahun ke depan harus berorientasi pada penguatan struktur, peningkatan kualitas kader, dan perluasan peran Hizbul Wathan di masyarakat. “Kebijakan periode ini tidak boleh berhenti pada tataran dokumen. Kita harus menggerakkannya hingga ke tingkatan cabang dan kwartir ranting,” kata Khodiq.
Ia menjelaskan bahwa tantangan ke depan semakin kompleks. Karena itu, HW Kendal perlu memastikan bahwa setiap anggota memiliki kapasitas memadai. Khodiq menggambarkan pentingnya sinergi antara Kwarda dan DSD sebagai motor penggerak kegiatan. Menurutnya, keberhasilan implementasi kebijakan daerah sangat bergantung pada keseriusan Dewan Sugli dalam menjalankan fungsi koordinasi dan eksekusi program.
Kegiatan upgrading ini dimaksudkan sebagai ruang pembelajaran bagi para anggota DSD yang baru maupun yang telah berpengalaman. Panitia menargetkan agar para peserta mendapatkan pemahaman yang lebih luas tentang pola kerja kelembagaan, sekaligus mampu mempraktikkan metode manajerial yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Upgrading ini juga menjadi momentum untuk mengonsolidasikan semangat kaderisasi yang selama ini menjadi ruh Hizbul Wathan.
Sejumlah peserta menyampaikan bahwa materi yang diberikan sangat membantu dalam memahami peta peran Dewan Sugli. Mereka menilai penjelasan dari kedua narasumber memberi gambaran konkret tentang bagaimana mengelola organisasi secara sistematis. Dalam diskusi, beberapa peserta menanyakan strategi mengatasi hambatan kaderisasi serta cara mendorong kerjasama lintas tingkat kwartir.
]]>