Taufiq, Ketua Kwarwil Jateng, menjelaskan bahwa pelatihan tahun ini disusun secara daring dan luring. “Kegiatan ini berlangsung selama sepekan, dengan rangkaian acara yang dimulai dari sesi daring sebelum dilanjutkan pelatihan luring,” ujarnya. Ia menilai pola hybrid memudahkan peserta dari berbagai daerah untuk mengikuti pelatihan tanpa kendala jarak.
Pusat kegiatan luring berada di SMK Muhammadiyah Delanggu, sementara sesi daring menjadi forum pembuka untuk mengenalkan materi dasar. Menurut penyelenggara, metode kombinasi ini dipilih untuk memberikan ruang pembelajaran yang lebih fleksibel namun tetap efektif. Pendekatan tersebut dinilai mampu menguatkan interaksi peserta sebelum mereka mengikuti sesi praktik.
Pelatihan Jaya Melati 2 berfokus pada pembentukan kompetensi pelatih Hizbul Wathan agar mampu menanamkan pendidikan karakter kepanduan sejak dini. Materi yang dibawakan mencakup aspek teknis, manajerial, serta penguatan metode pelatihan di lapangan. Tujuan umum kegiatan ini adalah memastikan para pelatih memiliki pengetahuan yang terus berkembang sesuai dinamika gerakan kepanduan.
Pada pembukaan sesi luring, hadir Taufiq dan Sukasno sebagai pimpinan Kwarwil, Pelatih Jaya Melati 2 Ismokoweni, serta perwakilan Bidang Diklat dan MSDA Kwarwil. Mereka menyambut langsung peserta yang berasal dari berbagai wilayah, termasuk Lampung, Medan, dan NTB. Total 68 peserta tercatat mengikuti kursus tersebut. Sukasno menyebut bahwa jumlah itu menunjukkan besarnya minat anggota dewasa dalam meningkatkan kemampuan kepelatihan.
Sukasno menegaskan bahwa pelatih memiliki peran penting dalam membentuk karakter dan kedisiplinan para pandu. Ia menyampaikan bahwa pelatih tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga menjadi teladan dalam menjalankan nilai-nilai kepanduan. “Kami berharap peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh,” katanya ketika membuka sesi luring di Delanggu.
Menurut panitia, seluruh materi yang diberikan disusun agar peserta mampu menerapkan metode kepelatihan secara tepat, baik saat memimpin latihan dasar maupun ketika mendampingi program pengembangan pandu. Peserta juga dibekali pendekatan kreatif dalam merancang program pelatihan, sehingga mampu menjawab tantangan di kwartir masing-masing.
Ismokoweni, salah satu pelatih Jaya Melati 2, turut memberikan penegasan mengenai pentingnya pembaruan dalam dunia kepanduan. Ia menjelaskan bahwa dinamika sosial menuntut pelatih HW untuk terus beradaptasi. Dalam laporannya, ia menyampaikan bahwa peserta diharapkan membawa inovasi setelah kembali ke daerah masing-masing. Menurutnya, pembaruan metode pelatihan akan membuat gerakan HW lebih relevan dan dekat dengan kebutuhan generasi muda.
“Kami ingin melahirkan pelatih yang dapat menggerakkan para pandu sehingga mereka memiliki kompetensi dan mampu dilatih melalui pendekatan kreatif serta efektif,” ujarnya menutup sesi laporan.
Selama pelatihan berlangsung, peserta tidak hanya diajak memahami teori, tetapi juga praktik langsung untuk memperkuat kemampuan teknis. Dengan demikian, pelatihan ini diharapkan mampu menghasilkan pelatih yang memiliki ketangguhan karakter, wawasan yang luas, serta kecakapan memimpin kegiatan kepanduan.
]]>Penyelenggaraan luring dipusatkan di SMK Muhammadiyah Delanggu. Sementara itu, sesi daring menjadi ruang pertemuan awal bagi para peserta sebelum memasuki kegiatan tatap muka. Penyelenggara menyebut bahwa pola hybrid ini dipilih agar proses pelatihan lebih fleksibel dan menjangkau peserta dari berbagai daerah.
Pada pembukaan sesi daring, hadir Wakil Ketua Kwarwil HW Jawa Tengah, Sukasno, Pelatih Jaya Melati 2, Ismokoweni, serta perwakilan Bidang Diklat dan MSDA Kwarwil HW Jawa Tengah. Sebanyak 66 pandu tercatat mengikuti kursus tersebut. Salah satu panitia mengatakan bahwa angka itu menunjukkan tingginya antusiasme anggota dewasa dalam memperdalam kompetensi kepanduan.
Dalam sambutannya, Sukasno menegaskan pentingnya peningkatan kualitas pelatih di lingkungan Hizbul Wathan. Ia menyampaikan bahwa peran pelatih tidak sekadar menyampaikan materi, tetapi juga membentuk karakter dan kedisiplinan para pandu. “Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh,” ujarnya saat membuka sesi daring.
Pernyataan itu sejalan dengan tujuan utama kursus, yaitu menyiapkan anggota dewasa yang tidak hanya memahami teori kepanduan, tetapi juga terampil mengimplementasikan metode kepelatihan di lapangan. Menurut panitia, peserta dibekali materi yang dirancang untuk memperkuat kemampuan teknis maupun manajerial dalam menjalankan tugas sebagai pelatih.
Pelatih Jaya Melati 2, Ismokoweni, dalam kesempatan terpisah menyampaikan bahwa peserta diharapkan mampu membawa pembaruan dalam proses pelatihan di masing-masing kwartir. Ia menjelaskan bahwa dinamika kepanduan menuntut para pelatih untuk terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensi. “Kami ingin melahirkan pelatih yang dapat menggerakkan semangat para pandu melalui pendekatan yang lebih kreatif dan efektif,” katanya.
]]>